Sabtu, 19 Maret 2011

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
Oleh: Prof. Suyanto, Ph.D

Dalam era desentralisasi seperti saat ini, di mana sektor pendidikan juga dikelola secara otonom oleh pemerintah daerah, dan praksis pendidikan harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik dalam arti relevansinya bagi kepentingan daerah maupun kepentingan nasional. Manajemen sekolah saat ini memiliki kecenderungan ke arah school based management. Dalam konteks school based management, sekolah harus meningkatkan keikutsertaan masyarakat lokal dalam pengelolaannya untuk meningkatkan kualitas dan efisiensinya. Meskipun demikian otonomi pendidikan dalam konteks school based management harus dilakukan dengan selalu mengacu pada accountability (pertanggungjawaban kualitas) terhadap masyarakat, orangtua, siswa, maupun pemerintah pusat dan daerah.

Agar desentralisasi dan otonomi pendidikan berhasil dengan baik, kepemimpinan kepala sekolah perlu diberdayakan. Pemberdayaan berarti peningkatan kemampuan secara fungsional sehingga kepala sekolah mampu berperan sesuai dengan tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya. Dengan proses dan program pemberdayaan, mereka akhirnya harus memiliki kinerja yang profesional dan fungsional. Kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer dan pemimpin yang efektif. Sebagai manajer yang baik, kepala sekolah harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal dalam mendukung tercapainya tujuan sekolah. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik yang meliputi: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pengarahan; dan (4) pengawasan.

Dari segi kepemimpinan, seorang kepala sekolah mungkin perlu mengadopsi gaya kepemimpinan transformasional agar semua potensi yang ada di sekolah dapat berfungsi secara optimal. Kepemimpinaan transformasional dapat didefinisikan sebagai gaya kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan dan atau mendorong semua unsur yang ada dalam sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai (values system) yang luhur sehingga semua unsur yang ada di sekolah (guru, siswa, pegawai, orangtua siswa, masyarakat, dsb.) bersedia, tanpa paksaan, berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan ideal sekolah. Ciri seorang yang telah berhasil menerapkan gaya kepemimpinan transformasional (Luthans, 1995: 358) adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasikan dirinya sebagai agen perubahan (pembaruan); (2) memiliki sifat pemberani; (3) mempercayai orang lain; (4) bertindak atas dasar sistem nilai, (bukan atas dasar kepentingan individu, atau atas dasar kepentingan dan desakan kroninya); (5) mening-katkan kemampuannya secara terus-menerus sepanjang hayat; (6) memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi yang rumit, tidak jelas, dan tidak menentu; (7) memiliki visi ke depan.

Dalam era desentralisasi, kepala sekolah tidak layak lagi untuk takut mengambil inisiatif dalam memimpin sekolahnya. Pengalaman kepemimpinan yang bersifat top down seharusnya segera ditinggalkan. Pengalaman kepemimpinan kepala sekolah yang bersifat instruktif dan top down memang telah lama dipraktikkan di sebagaian besar sekolah kita ketika era sentralistik masih berlangsung. Beberapa fenomena pendidikan persekolahan sebagai hasil dari model kepemimpinan yang instruktif dan top down dapat kita sebutkan antara lain: sistem target pencapaian kurikulum, target jumlah kelulusan, formula kelulusan siswa, dan adanya desain suatu proyek peningkatan kualitas sekolah yang harus dikaitkan dengan peningkatan NEM secara instruktif. Keadaan ini berakibat pada terbelenggunya seorang kepala sekolah dengan juklak dan juknis. Dampak negatifnya ialah tertutupnya sekolah pada proses pembaruan dan inovasi.

Keadaan ini pernah dialami oleh penulis ketika harus melakukan diseminasi classroom action research di sekolah-sekolah. Kepala sekolah yang mengadopsi kepemiminan instruktif-otoritarian tidak selalu bisa memberi peluang kepada penulis untuk mengajak para guru melakukan classroom action research di kelasnya, dengan alasan kegiatan penelitian kelas itu akan mengganggu pencapaian target kurikulum yang telah dicanangkan oleh pusat. Di sisi guru sebenarnya mereka sangat mendambakan untuk selalu meningkatkan profesionalisme secara berkelanjutan melalui classroom action research. Sebab mereka sebenarnya mengerti, dengan melakukan penelitian itu para guru akan mampu melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran yang selama ini dilakukannya. Para guru telah dilatih, berhari-hari mengenai cara-cara melakukan classroom action research. Tetapi gara-gara ada kepala sekolah tidak reseptif terhadap inovasi, akhirnya guru harus puas dengan praktik yang bertahun-tahun dilakukan dan dianggap telah baik tanpa ada sistem feedback yang diperolehnya dari penelitian tindakan kelas.

Kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan partisipatif – transformasional memiliki kecenderungan untuk menghargai ide-ide baru, cara baru, praktik-praktik baru dalam proses belajar – mengajar di sekolahnya, dan dengan demikian sangat senang jika guru melaksanakan classroom action research; Sebab dengan penelitian tindakan kelas itu sebenarnya guru akan mampu menutup gap antara wacana konseptual dan realitas dunia praktik profesional. Akibat positifnya ialah dapat ditemukannya solusi bagi persoalan keseharian yang dihadapi guru dalam proses belajar – mengajar di kelas. Jika hal ini terjadi, berarti guru akan mampu memecahkan sendiri persoalan yang muncul dari praktik profesionalnya, dan oleh karena itu mereka dapat selalu meningkatkan profesionalismenya secara berkelanjutan.

Agar proses inovasi di sekolah dapat berjalan dengan baik, kepala sekolah perlu dan harus bertindak sebagai pemimpin (leader), dan bukannya bertindak sebagai boss. Ada perbedaan di antara keduanya. William Glasser (1992) dalam bukunya The Quality School: Managing Students Without Coercion berhasil mengemukakan metapora yang membedakan antara leader dan boss. Perbedaan tersebut dapat kita pahami dari ungkapan-ungkapan metaporik berikut: (1) A boss drives. A leader leads; (2) A boss relies on authority. A leader relies on co-operation; (3) A boss says “I”. A leader says “We”; (4) A boss creates fear. A leader creates confidence; (5) A boss knows how. A leader shows how; (6) A boss creates resentment. A leader breeds enthusiasm; (7) A boss fixes blame. A leader fixes mistakes; (8) A boss makes work drudgery. A leader makes work interesting.

Dengan memahami metapora tersebut, seyogyanya kepemimpinan kepala sekolah harus menghindari terciptanya pola hubungan dengan guru yang hanya mengandalkan kekuasaan, sebaliknya perlu mengedepankan kerja sama fungsional; menghindarkan diri dari one man show, sebaliknya harus menekankan pada kerjasama kesejawatan; menghindari terciptanya suasana kerja yang serba menakutkan, sebaliknya perlu menciptakan keadaan yang membuat semua guru percaya diri; menghindarkan diri dari wacana retorika, sebaliknya perlu membuktikan memiliki kemampuan unjuk kerja profesional; menghindarkan diri dari sifat dengki dan kebencian, seba-liknya harus menumbuhkembangkan antusiasme kerja para guru; menghindarkan diri dari suka menyalahkan guru, tetapi harus mampu membetulkan (mengoreksi) kesalahan guru; dan menghindarkan diri agar tidak menyebabkan pekerjaan guru menjadi membosankan, tetapi sebaliknya justru harus mampu membuat suasana kerja yang membuat guru tertarik dan betah melakukan pekerjaannya.

INDIKATOR PENGAMATAN PADA PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

1. Kontruktivis (Constructivism)
•Apakah siswa membangun sendiri pemamahaman?
•Apakah siswa mengembangkan pemahaman melalui belajar bermakna?
2. Inkuiri (Inquiry)
•Apakah diawali pengamatan menuju pemamahaman konsep?
•Sesuaikah siklus: Amati-tanya-analisa-rumuskan?
•Adakah pengembangan dengan menggunakan keterampilan berpikir kritis?
3. Bertanya (Questioning)
•Apakah untuk mendorong-membimbing-menilai siswa?
•Dalam kegiatan berbasis inkuiri apakah dipakai siswa?
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
•Terciptakah kegiatan berbicara-berbagi pengalaman?
•Terjadikah kerjasama dalam kegiatan pembelajaran?
5. Pemodelan (Modeling)
•Apakah model dari hasil pemikiran mendalam?
•Apakah didemonstrasikan bagaimana seharusnya siswa belajar?
•Apakah dicontohkan apa yang seharusnya ditiru oleh siswa?
6. Refleksi (Reflection)
•Adakah umpan balik/memikirkan tentang apa yang dipelajari?
•Terdapatkah proses review-respon kejadian-pengalaman?
•Adakah catatan siswa dari apa yang dipelajarai dan menemukan ide-ide baru?
•Variatifkah penggunaan sumber ide-ide baru, seperti jurnal, poster, hasil diskusi?
5. Penilaian Otentik (Authentic Assessment)
•Apakah terukur aspek pengetahuan dan aspek keterampilan?
•Apakah penerapan pengetahuan dan keterampilan diperlukan?
•Terdapatkah penilaian produk dan kinerja?
•Adakah tugas kontekstual dan relevan?
•Apakah terdapat/terukur penilaian produk dan proses?

PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Adakah tujuan pembelajaran?
Apakah siswa termotivasi?
Adakah bahan ajar/masalah/LKS?
Adakah pengelompokan siswa?
Adakah langkah-langakah pembelajaran sesuai type pada pembelajaran kooperatif?
Apakah guru membimbing kelompok-kelompok kooperatif?
Terdapatkah nilai-nilai kooperatif?
Terjadikah penilaian proses?
Terukurkah penilaian individual maupun kelompok?
Adakah penghargaan kelompok?
Terciptakah sikap positif siswa?

PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, MENYENANGKAN

Bagaimanakah bentuk tugas yang diberikan?
Apa yang dikerjakan siswa untuk melakukan tugas tersebut?
Kemampuan apa yang dikembangkan melalui tugas tersebut?
Bagaimana bentuk pertanyaan yang diberikan dalam tugas tersebut?
Jenis pertanyaan apa saja yang diajukan guru kepada siswa dalam pembelajaran?
Sejauh mana guru memperhatikan perbedaan siswa?
Apa yang dilakukan oleh siswa selama mengerjakan tugas?
Sejauh mana siswa diberi kesempatan untuk menanggapi kegiatan belajar yang telah dilakukan?
Apa yang dilakukan siswa pada saat belajar kelompok, individu, berpasangan, atau klaiskal?
Pada saat ada kerja kelompok, berapa jumlah anggota kelompok?
Apakah semua siswa terlibat dalam kegiatan kelompok?
Apa yang dilakukan guru selama siswa mengerjakan tugas?

LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PROPOSAL PTK

versi Depdiknas, 2004 oleh Dr. H. Basuki Wibawa)

A. JUDUL PENELITIAN

Judul hendaknya mencerminkan permasalahan pokok yang akan dipecahkan sedapat mungkin mengandung unsur variabel utama yang diteliti. Judul harus deklaratif, singkat, jelas dan tidak memberi kemungkinan penafsiran yang bermacam-macam.
Setelah halaman judul dilanjutkan dengan halaman pengesahan proposal PTK, yang berisi tentang hal-hal yang berkenaan dengan judul penelitian (judul, bidang ilmu, dan kategori penelitian), ketua peneliti, jumlah peneliti (nama, jenis kelamin, golongan, pangkat/pangkat, jabatan, satmingkal), lokasi penelitian, kerja sama dengan instansi lain, waktu penelitian, serta biaya yang diperlukan.
ketua peneliti, jumlah peneliti, (nama, jenis kelamin, gol/pangkat, jabatan, satmingkal), lokasi penelitian, .
Contoh Judul, antara lain:
1. Peningkatan Keterampilan Menulis Bahasa Inggris di SMA melalui Pendekatan Proses.
2. Optimalisasi Pembelajaran Matematika dengan Pengorganisasian Tugas Terstruktur dan Kuis pada Siswa Kelas II SMPN 12 Kendari.
3. Penggunaan Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Berhitung Siswa Kelas V SD
4. Peningkatan Kemandirian Murid TK melalui Bermain Peran

B. ISI PROPOSAL

Berisi latar belakang dan identifikasi permasalahan, yang pada pokoknya menguraikan konteks permasalahan, pentingnya masalah itu diteliti dan manfaat yang diharapkan dari temuan penelitian jika pelaksanaannya telah selesai. Secara keseluruhan isi proposal terdiri atas hal-hal sbb:
I. Pendahuluan
Berisi hal-hal yang melatarbelakangi mengapa penelitian penting dilakukan dan identifikasi permasalahan, yang pada pokoknya menguraikan konteks permasalahan, pentingnya masalah ini diteliti dan manfaat yang diharapkan dari temuan penelitian jika pelaksanaannya telah selesai.
II. Rumusan Masalah
Menguraikan perumusan masalahnya dalam kalimat-kalimat naratif, baik berupa pertanyaan ataupun pernyataan problematis. Biasanya dikemukakan beberapa butir permasalahan yang secara eksplisit menggambarkan tahap-tahap diagnosis masalah, terapi atau tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan yang diambil.
Pada proposal lengkap, biasanya juga dijumpai uraian khusus tentang tujuan penelitian dan manfaat penelitian.
III. Kajian Pustaka dan Penelitian yang Relevan
Berisi kajian pustaka untuk mendasari tindakan yang direncanakan sebagai pemecahan masalah, dan hasil-hasil penelitian lain yang erat kaitannya dengan permasalahan yang sedang akan diteliti. Sedapat mungkin diusahakan agar mempertimbangkan kemuktahiran dan relevansi bahan pustaka. Diakhir bagian ini biasanya dapat dirumuskan suatu hipotesis tindakan. Hipotesis tindakan dapat dirumuskan berdasarkan teori, pengalaman atau hasil penelitian, disetting yang lain.
Rumusan hipotesis tindakan hendaknya menyatakan interpensi yang akan dilaksanakan dan hasil yang akan diperoleh.
IV. Tujuan Penelitian Tindakan
Berisi tentang tujuan operasional yang ingin dicapai melalui penelitian tindakan kelas ini.
V. Kontribusi Penelitian
Berisi tentang manfaat apa yang dapat diperoleh dengan menerapkan penelitian tindakan kelas ini.
VI. Metode Penelitian
Metode atau prosedur penelitian yang menguraikan secara rinci: a) setting; yang akan menjelaskan tentang lokasi sekolah, kelas, mata pelajaran, waktu, karakteristik sekolah, karakteristik subyek penelitian (siswa), dan karakteristik peneliti; b) subyek; yang terlibat sebagai peneliti, kolaborator atau partisipan; c) alat-alat dan teknik pemantauan atau monitoring dalam proses pengumpulan data; d) Rencana tindakan; yang mengkaji langkah-langkah yang ditempuh melalui
tahap-tahap atau siklus penelitian tindakan, antara lain: fase diagnostik (mengidentifikasi problem)
dan fase terapeutik (pemecahan problem); e) sumber data; f) jenis data, g) teknik pengumpulan data; h) teknik analisis data; dan i) kriteria, indikator atau rambu-rambu evaluasi dan refleksi.
VII. Personalia Penelitian
Tim peneliti yang melaksanakan penelitian ini di lapangan harus tercantum dengan jelas, kadang-kadang dituntut melampirkan curriculum vitae yang menunjukkan bidang keahlian dan track record yang relevan dengan penelitian yang dilaksanakan.
VIII. Rencana Pembiayaan Penelitian
Berisi rincian rencana pengeluaran biaya penelitian, misal; untuk uang lelah atau honorarium, perjalanan, bahan dan operasi di sekolah (pra-observasi, pelaksanaan observasi lapangan, penyusun instrumen, peralatan, bahan habis, analisis data dengan komputer, laporan, dsb).
IX. Jadwal Kerja
Proposal penelitian hendaknya juga mencantunkan rencana pelaksanaan di lapangan dalam suatu jadwal atau matriks kegiatan, baik berupa time schedule, cara atau teknik penjadwalan yang lebih lengkap.
X. Lampiran
Proposal penelitian hendaknya melampirkan juga daftar kepustakaan dan riwayat hidup peneliti.


Cntoh di atas merupakan salah satu versi Depdiknas Tahun 2004 oleh Dr. H. Basuki Wibawa, dan dapat digunakan untuk penelitian mandiri bagi guru.
Adapun versi yang lain sangat tergantung pada promotor (pemilik anggaran), kadang diberikan rambu-rambu tersendiri.

Senin, 07 Maret 2011

ANALISIS: TAXONOMI VARIABEL PEMBELAJARAN (Reigeluth & Merril, 1978)

 Taxonomi variabel pembelajaran terus dikembangkan oleh para pakar dan para  ilmuwan pembelajaran yang diklasifikasikan menjadi tiga yaitu : kondisi, metode, hasil (Reigeluth &Merrill, 1978; 1979; Reigeluth 1979a; 1983; Degeng, 1988).
 Ketiga variabel pembelajaran yang diklasifikasikan itu, telah disampaikan oleh penulis pada diklat calon kepala sekolah lingkup Dinas Diknas Kota Kendari Tahun 2007, yakni sebagai berikut:
KONDISI PEMBELAJARAN : Faktor yg mempengaruhi efek metode dlm meningkatkan hasil pembelajaran (tdk dapat dimanipulasi), yang dimaksud ini, yakni: tujuan dan karakteristik mata pelajaran; kendala dan karakteristik mata pelajaran; dan karakteristik peserta didik.
METODE PEMBELAJARAN: Didefinisikan sbg cara-cara utk mencapai hasil pembelajaran yg berbeda di bawah kondisi pembelajaran yg berbeda (dapat dimanipulasi), yang dimaksud ini, yakni: strategi pengorganisasian/penataan isi/materi pembelajaran; strategi penyampaian pembelajaran; dan strategi pengelolaan pembelajaran (pengelolaan yang dimaksud; sinkronisasi antara metode, karakteristik materi dan peserta didik, sistem penilaian termasuk penjadwalan yang disesuaikan dengan kondisi).
Bila suatu kondisi dpt dimnipulasi maka ia berubah menjadi metode pembelajaran, demikian pula bila metode tdk dpt dimanipulasi maka ia berubah menjadi kondisi pembelajaran.
HASIL PEMBELAJARAN: Mencakup semua efek yg dpt dijadikan sbg indikator ttg nilai dari penggunaan metode pembelajaran di bawah kondisi yg berbeda. Bisa berupa hasil nyata (actual outcomes), dan bisa berupa hasil yg diinginkan (desired outcomes), yang dimaksud ini, yakni: efektivitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran.
Efektivitas yang dimaksud ini; segala yang terkait dg "ketuntasan" (dapat diukur; kognitif/afektif/psikomotor).
Efisiensi yang dimaksud ini; segala yang terkait dg "untung-rugi" (dapat diukur; rasio/tenaga, biaya, waktu, dll).
Daya tarik yang dimaksud; kecenderungan peserta didik utk tetap belajar (dapat diukur; sikap, motivasi berprestasi, minat, dll).
Laksanakanlah kajian ilmiah seputar efektivitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran yang dapat diukur menggunakan instrumen baku atau instrumen yang dikembangkan. Selamat ber-PTK bagi guru dan ber-PTS bagi pengawas.
       

Minggu, 06 Maret 2011

Analisis dari Strategi Pembelajaran: Penyampaian, Pengorganisasian, Pengelolaan

Strategi penyampaian (delivery strategy): metode dalam menyampaikan pembelajaran kepada siswa dan/atau utk menerima, serta merespon masukan yg berasal dari siswa.

Strategi pengorganisasian (organizational strategy): metode dalam mengorganisasi/menata isi/materi pelajaran yg telah dipilih utk pembelajaran (pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan yg setingkat/sejenis dg itu.

Strategi pengelolaan (management strategy): metode dalam menata interaksi antara peserta didik/siswa, strtegi pengorganisasian isi, dan strategi penyampaian isi.

Jika ketiga strategi ini (strategi penyampaian, strategi pengorganisasian, strategi pengelolaan) terpisahkan dalam perencanaan pembelajaran, maka dipastikan untuk dapat mengimplementasikan RPP yang rohnya beraliran konstruktivistik hanya akan menjadi impian belaka...

Rabu, 02 Maret 2011

ANALISIS PERMASALAHAN RPP GURU DAN PEMECAHANNYA

Berdasarkan fakta bahwa RPP yang disusun secara tim (MGMP), belum dapat memecahkan masalah setiap guru untuk merubah tingkah laku pembelajaran tradisional (konvensional) menuju proses pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik (Nursan, 2010:2).

Pengakuan guru kepada pengawas sekolah bahwa hampir tidak pernah cukup waktu untuk mengikuti langkah-langkah kegiatan inti pembelajaran yang ada pada RPP yang disusun oleh tim MGMP, sehingga guru mengambil jalan keluar dengan action tanpa mengikuti kegiatan inti pada RPP. 

Pada umumnya guru melaksanakan kegiatan pembelajaran tidak mengikuti RPP yang telah disusun secara tim MGMP, meskipun mereka termasuk anggota tim dalam penyusunan RPP tersebut. Hal ini merupakan permasalahan yang mendesak untuk segera dipecahkan secara ilmiah.

Guru bukan tidak tahu tetapi tidak mau tahu...

Salah satu pemecahan masalah yang dilaksanakan oleh pengawas sekolah adalah melalui pendekatan supervisi klinis. Pendekatan supervisi klinis memposisikan pengawas sebagai teman sejawat dalam berkolaborasi dengan guru mata pelajaran untuk memecahkan masalah yang ditemukan. Melalui supervisi klinis guru digiring agar termotivasi, meyadari, dan tertarik menyusun RPP secara mandiri. Naluri guru akan muncul, dengan keyakinan bahwa untuk dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP, maka idealnya RPP tersebut disusun secara mandiri. RPP yang telah disusun bersama secara tim dapat dijadikan dasar penelaahan kembali untuk disesuaikan dengan kondisi pembelajaran masing-masing guru yang bersangkutan.

Supervisi klinis membutuhkan energi yang lebih, sebab melalui supervisi klinis maka supervisor mesti beberapa kali mengadakan pertemuan dengan guru yang bersangkutan dalam rangka berkolaborasi untuk memecahkan masalah.

Melalui supervisi klinis, pengawas pembina mesti menggiring guru agar menyadari bahwa dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP, berarti guru dapat mengkaji keampuhan setiap RPP yang disusunnya itu. Jika ternyata hasil penilaian proses dan penilaian hasil belajar peserta didik belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM), maka secara ilmiah, guru dapat mendeteksi komponen-komponen mana saja pada RPP yang akan dikaji dan direvisi serta dikembangkan. Demikian seterusnya, pendeteksian/pengkajian dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Konsistensi dan kesinambungan pendetektsian/pengkajian sinkronisasi antara RPP dan pelaksanaan RPP, yang dikaitkan dengan hasil belajar peserta didik dapat dipertahankan jika dan hanya jika melalui penelitian tindakan kelas (PTK), secara berkala (persemester). Melalui PTK guru akan memperoleh prestise, penghargaan, kepercaya diri sebagai guru yang profesional, dan yang terpenting mendapat kepuasan kerja.

Pendeteksian/pengkajian antara sinkronisasi RPP dan pelaksanaan RPP, yang dikaitkan dengan kualitas hasil pembelajaran (kognitif, afektif, psikomotor) pada hakikatnya itulah yang disebut penelitian tindakan kelas (PTK) atau yang dikenal oleh guru secara luas classroom action research. 

Pengawas sekolah melaksanakan salah satu dari tupoksinya yakni menilai kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran menggunakan instrumen baku yakni APKG1 dan APKG2, serta instrumen lain yang telah dikembangkan.





Selasa, 01 Maret 2011

KONSEP DASAR RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) - GURU

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP yang memuat sekurang-kurangnya; tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (PP RI No.19 Thn 2005 tentang SNP Pasal 20).

RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar (KD) yang ditetapkan dalam standar isi (SI) dan yang dijabarkan dalam silabus.
Lingkup RPP paling luas mencakup satu KD yang terdiri atas satu indikator atau beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih.

Langkah-langkah penyusunan RPP: (1) mengisi kolom identitas, (2) menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, (3) menentukan standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), dan indikator yang akan digunakan - terdapat pada silabus yang telah disusun sebelumnya, (4) merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan indikator yang telah ditentukan, (5) mengidentifikasi materi ajar yang diuraikan berdasarkan materi pokok pembelajaran yang terdapat dalam silabus, (6) menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, (7) merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir, (8) menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, (9) menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran atau lainnya.

Penyusunan RPP seyogyanya berpedoman pada silabus, dan dalam mengembangkan RPP khususnya pada kegiatan inti pembelajaran hendaknya didesain dengan berkonsentrasi kepada karakteristik sebagai subyek belajar yang dikaitkan dengan karakteristik materi pembelajaran, dan disesuaikan dengan kondisi.

Salah seorang pakar pembelajaran menyatakan bahwa pembelajaran bertujuan untuk mempengaruhi peserta didik agar belajar (Degeng, 1988a:3).